Agam (tengah) saat ditemui awak media di rumahnya. |
Untuk bisa meraih juara dua kategori Youth Ages 20 – 24 dalam 2015 “Year of Light” Worldwide Youth Multimedia Competition tidaklah mudah. Agam harus bisa mengalahkan ratusan pemuda dari 78 negara. Namun, berkat kegigihanya, Agam berhasil menorehkan prestasi dikancah internasional dan mendapatkan penghargaan internasional dalam US Federation UNESCO Clubs (USFUCA) Worldwide Multimedia Competition 2015.
“Saya memperoleh juara kedua. Juara pertama diraih mahasiswa dari universitas di Iran,” terang Agam kepada Harian Wonosobo di rumahnya.
Penghargaan itu berhasil didapatkan setelah Agam mengangkat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Agam membuat dokumentasi video mengenai masyarakat di salah satu pulau terpencil di Kabupaten Raja Ampat, yakni Pulau Manyaifun. Di tempat itu, Agam bersama 29 mahasiswa UGM lainnya mengikuti program KKN PPM selama 2 bulan, pada bulan Juli-Agustus 2014 tinggal di Pulau Manyaifun.
“Selama dua bulan KKN kami menemukan energi baru terbarukan dan bisa dimanfaatkan untuk masyarakat sekitarnya,” beber dia.
Pada kompetisi itu, Agam membuat video berdurasi 3 menit mengenai program pemasangan panel surya atau penerangan dengan memanfaatkan tenaga matahari di Pulau Manyaifun. Sebab di pulau tersebut tidak ada aliran listrik. Bila warga menggunakan genset biaya akan sangat mahal.
”Pasokan listrik disana sangat terbatas, sehingga panel surya cukup penting untuk bisa memasok listrik. Kebetulan tema kompetisi ini adalah Year of Light. Ide bisa dalam bentuk essay, video pendek 3 menit, presentasi dengan power point atau karya seni lainnya. Tetapi, saya membuat dalam bentuk video," terangnya.
Dalam kompetisi itu, kata Agam kepada Harian Wonosobo, peserta ditantang dalam hal sumber energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun. Energi terbarukan itu bisa dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di pulau untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan, perikanan/nelayan, kesehatan dan lain-lain. Pemasangan panel surya di Pulau Manyaifun itu juga melibatkan warga setempat. Adanya alat penerangan panel surya itu bisa mendukung program kesuksesan program rumah belajar yang dilakukan mahasiswa KKN. Sebab di pulau tersebut hanya ada satu sekolah swasta yakni SD yang sempat ditinggal oleh tenaga pengajarnya.
“Kita membantu pengadaan panel surya. Sedangkan warga membantu membuatkan rumah belajar baik membantu tenaga dan kebutuhan lainnya,” jelasnya kepada Harian Wonosobo.
Menurutnya, keberadaan rumah belajar dengan penerangan panel surya itu dapat dimanfaatkan semua warga terutama anak-anak usia sekolah. Mereka sangat terbantu dalam belajar.
“Setidaknya mereka bisa terbantu ketika proses belajar mengajar,” jelasnya. (Red-HW45/Foto: Harian Wonosobo).
0 komentar:
Post a Comment